BANTUL, DIY – Di tengah transisi strategis awal tahun, Relawan TIK (RTIK) Indonesia kembali menegaskan posisinya sebagai penggerak utama literasi dan pendampingan digital masyarakat. Menghadiri Rembuk Nusa Coordinator Meeting yang digelar di Combine Resource Institution (CRI), Bantul, Yogyakarta pada Jumat (16/01), RTIK membawa misi besar: memastikan teknologi informasi benar-benar inklusif dan berdampak nyata hingga ke pelosok desa.
Pertemuan ini merupakan bagian dari program Local Network Initiative (LocNet) bertajuk “Meaningful Community-Centered Connectivity in Indonesia” yang didukung oleh Association for Progressive Communication (APC). Forum ini menjadi wadah refleksi kolektif bagi konsorsium Rembuk Nusa untuk menyelaraskan strategi nasional dengan kebutuhan akar rumput sepanjang tahun 2026.
Mendorong Inklusivitas: Dari Digibilitas hingga Pemulihan Bencana
Dalam sesi diskusi yang dinamis, Sekretaris Jenderal Relawan TIK Indonesia, Muhammad Nur Fajar Muharrom, membagikan potret keberhasilan RTIK di berbagai daerah sebagai inspirasi bagi anggota konsorsium lainnya.
Beliau menyoroti program DIGIBILITAS yang diinisiasi oleh RTIK Sidoarjo sebagai model nyata pendampingan digital bagi penyandang disabilitas. Selain itu, aksi tanggap RTIK Aceh dalam manajemen informasi kebencanaan juga menjadi poin penting yang dipaparkan.
“Relawan TIK berkomitmen untuk terus menjadi penggerak di masyarakat. Melalui forum Rembuk Nusa ini, kami memastikan bahwa praktik baik seperti Digibilitas dan mitigasi bencana digital tidak hanya berhenti di satu daerah, tapi menjadi standar gerakan nasional,” ujar Fajar Muharrom.
Isu Strategis: Internet Komunitas dan Perubahan Iklim
Direktur Commonroom, Gustaff H. Iskandar, memaparkan rencana besar penguatan infrastruktur internet komunitas di tiga lokasi percontohan, salah satunya di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Agenda ini akan diperkuat melalui rencana penyelenggaraan Rural ICT Camp di Lokasi lainnya.
Tak hanya soal infrastruktur, forum juga menaruh perhatian serius pada isu perubahan iklim. Belajar dari banjir besar di Sumatera, khususnya Aceh Tengah pada akhir 2025 lalu yang membutuhkan waktu pemulihan panjang, Rembuk Nusa sepakat menjadikan proses pemulihan pasca-bencana sebagai agenda pembahasan lanjutan yang krusial.
Kehadiran Relawan TIK dalam forum strategis ini diperkuat oleh delegasi pusat, yakni Muhammad Arifin selaku Kepala Bidang Komunikasi Publik yang hadir mendampingi Sekretaris Jenderal.
Dalam ruang kolaborasi tersebut, Relawan TIK bersinergi erat dengan jajaran mitra strategis lintas sektor, mulai dari unsur akademisi seperti CMCI Universitas Padjadjaran (Unpad) hingga lembaga pendamping komunitas seperti Combine Resource Institution (CRI) dan Perkumpulan Air Putih.
Turut hadir pula mitra kolaborasi dari ICT Watch—yang dalam kesempatan tersebut membocorkan rencana besar penyelenggaraan AI Summit 2026 bertepatan dengan Safer Internet Day—serta dukungan dari organisasi pakar dan aktivis digital seperti Portkesmas, Siberkreasi, dan Safenet.
Dengan sinergi ini, Relawan TIK Indonesia siap menyongsong tahun 2026 dengan agenda yang lebih inklusif, mulai dari penguatan kapasitas perempuan dan disabilitas hingga kesiapsiagaan teknologi dalam menghadapi tantangan iklim global.















